Rubik : Kubus Ajaib

Pernah mainan rubik?? pastinya udah pernah dong ya...terutama jaman sekolah dulu. Entah kenapa pemainan ini ngetren lagi di kantor suami sayah. Dan tentu saja, virus itu menular ke rumah... :)

Permainan rubik diciptakan tahun 1974 oleh Erno Rubik, seorang dosen Akademi Seni Terapan dan Kerajinan di Budapest, Hungaria. Selama bertahun-tahun kubus 3x3x3 dikembangkan dan disempurnakan untuk diproduksi massal. Kemudian rubik dipatenkan dan tahun 1977, rubik dijual pertama kali di toko-toko mainan di Budapest.

Salah satu nya adalah rubik yang ada di foto ini, rubik yang telah dipatenkan. Harganya lumayan mahal.. Belinya via seorang teman yang jago main rubik.


Salah satu rubik 'contekan' dari perusahaan mainan lain. Supaya tidak dituduh mencuri karya intelektual orang lain, maka diberi gambar / warna yang berbeda. Kalo foto di atas gambarnya tokoh kartun Doraemon dan kawan-kawan. Tapi justru lebih susah, karena harus menyamakan posisi gambar. Belinya di toko mainan, cuma Rp.27.500,-.

Kalo dulu saya cuma bisa menyelesaikan satu sisi saja, sekarang udah bisa keenam sisinya..yippie!! Tapi masih dengan kecepatan rendah...hehehe...maklum masih pemula.. :)

Masak Yuuuuk.....

Bisa masak??
wah, kalo ada yang nanya gitu ke saya...susah saya jawabnya.. Paling saya jawab, "bisa sih, tapi gak pinter... :) "

Terus terang aja, bisa dibilang saya jaraaaaaaaang sekali masak... kalaupun masak biasanya weekend ajah. Seperti weekend kali ini, saya masak Cha Udang Jagung. Ini resep olahan sendiri lho.... ;)

Bahan-bahannya :
- sawi hijau
- pipilan jagung
- udang kupas
- telur ayam kampung

Bumbu-bumbu : (sederhana banget lho)
- bawang putih
- merica
- garam

Cara memasak :
1. bumbu ditumbuk (diulek) sampai halus
2. tumis bumbunya, sampai ber-aroma
3. masukkan udang, sampai sedikit berwarna oranye
4. tuang air secukupnya
5. masukkan pipilan jagung, agar empuk
6. setelah jagung empuk, masukkan potongan sayur sawi
7. masukkan telur, aduk hingga merata

Dan taraaaaaaa......ini dia hasilnya!! :)


Insya Allah, kalo masak sendiri jauh lebih higienis dan bebas penyedap rasa...
Selamat mencoba!

Diklat Keprotokolan

Minggu lalu, tepatnya 18-19 Juni 2009, saya diberi tugas oleh kantor untuk mengikuti pendidikan dan latihan di bidang Keprotokolan di Pemerintah Propinsi DIY. Karena saya memang bertugas di Bagian Protokol Setda Kota Yogyakarta, jadi diklat ini tentunya sangat bermanfaat bagi bidang kerja saya.

Di diklat tersebut kita diberi tambahan wawasan tentang tata cara dalam mengadakan berbagai acara yang dihadiri pejabat pemerintah maupun pejabat negara. Dari tingkat daerah sampai pusat. Dari pengaturan tempat duduk, sampai mengatur susunan acara seremonial.

Sedikit cerita ajah, kami Protokol kota Yogyakarta pernah sibuk luar biasa...yaitu saat peresmian Taman Pintar (Science Park) oleh Presiden RI, Bapak Dr. Susilo Bambang Yudhoyono. Karena ternyata untuk menghadirkan RI 1 ternyata tidak mudah, aturan keprotokolan yang sangat rumit. Dari segi keamanan, kenyamanan, dan segala sesuatunya. Selain itu juga kelangsungan acara dari awal sampai akhir harus detil persiapannya. Waktu itu saya diberi tugas menjadi pembawa acara.

Kembali ke topik...
Peserta diklat tersebut adalah staf protokol se-propinsi DIY, humas beberapa Perguruan Tinggi (UGM, UII), dan beberapa perusahaan swasta di Jogja.

Foto bersama setelah acara penutupan...saya yang baju hijau di tengah.
Mejeng ah.... :)

Selain dapet teman baru, tentunya bisa refreshing...keluar sebentar dari rutinitas sehari-hari yang kadang membosankan. Dan pastinya menambah wawasan dan ilmu.

KCB : Ketika Cerita Bersambung

Halo semuanyah!! :) Duh, nggak buka blog hampir seminggu ternyata kangen juga yaaa... :L

Semalem saya menghadiri undangan Peresmian Cinema XXI di Jogja oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X. Sebenernya bioskop itu udah lumayan lama beroperasi, tapi baru diresmikan semalam. Gedungnya bekas bioskop "Empire" yang terbakar beberapa tahun yang lalu.

Acaranya diawali dengan dinner dan nonton bareng film Ketika Cinta Bertasbih (KCB), yang ternyata para aktor dan aktrisnya juga hadir.

Sri Sultan ngasih sambutan setelah film selesai diputar. Didampingi pemain, sutradara, penulis, produser film Ketika Cinta Bertasbih


Suasana di dalam cinema

Bicara soal filmnya, hm...bener juga kalo ada yang bilang kayak sinetron yang diputer di bioskop. Soalnya pake acara bersambung segala... beneran, di akhir filmnya ada tulisan to be continued... Tapi, gapapa lah...untung aja nontonnya gratis.. :p

Orion Solo

Melanjutkan postingan sebelumnya, saya akan bercerita tentang jalan-jalan ke Solo. Setelah selesai kondangan di Ngawi, kami mampir untuk beli oleh-oleh dan makan. Dan lokasi yang pertama adalah Orion, sebuah toko pusat oleh-oleh yang cukup terkenal. (Sesuai dengan tebakan mas Sugeng..hehehe)

Maaf, gangguan bukan pada mata anda, tapi emang fotonya agak kabur... :)
Si empunya blog lagi belanja... :L


Tempat ini paling dikenal dengan kue mandarinnya... Kue (hampir) mirip bolu dengan warna coklat dan kuning, dengan rasa yang enak banget. Maap sekali lagi, belum sempat saya foto isinya, keburu disikat abis.... :p


Trus ada juga kue kering, yang cocok sekali dimakan bareng segelas susu coklat hangat... yummy....


Ada juga intip, tapi ini bukan di dalam tokonya...tapi di luar toko Orion.
Saya gak beli, soalnya di Jogja intip juga banyak.. :)

Oke deh, lokasi pertama sudah cukup. Pastinya masih ada lokasi lain yang akan diceritakan. Sementara ini dulu....

Ohya, sekalian ada award nih dari Fanda. Padahal aku gak jago masak lho...bisa sekedar bisa ajah. Terima kasih ya fan.. :)

Kondangan ke Ngawi

Sedikit berbeda dengan hari Minggu lainnya, tanggal 14 Juni kemaren saya pergi ke Ngawi dalam rangka Jagong Manten, alias kondangan nikahan mantan bos saya di kantor lama. Berangkat rame-rame...

Nah, ini dia si raja dan ratu sehari. Foto saya ambil secara candid gitu, biar agak beda dikit :) Selamat yaa..buat Mas Amir dan Ayu. Semoga bahagia selalu dan selamanya.

Tapi perjalanan belum berakhir, setelah selesai kondangan masih sempat jalan-jalan mampir ke Solo. Beli oleh-oleh dan juga mampir makan. Ceritanya lain postingan ajah yaa... :D

Reog dan Batik

Reog Ponorogo sempat diklaim ama Malaysia, dan namanya jadi Tari Barongan. Atau batik yang juga dianggap kebudayaan Malaysia?? Wah, berita ini tentu udah basi yah, kalo kata temen saya... it's so last year... :)

Kebetulan hari Jumat, 12 Juni 2009 lalu, saya menghadiri Pembukaan Gelar UMKM Jogja di Taman Pintar Yogyakarta. Salah satu kesenian yang ditampilkan adalah Reog Ponorogo. Ternyata, pertunjukan reog itu emang bagus banget yah... baru kali ini saya menyaksikan dan bener-bener menyimak tariannya... wah... pantes aja Malaysia ngiri, dan nge-klaim kalo reog itu punya mereka :v

Saya juga sempat nanya ke salah satu penarinya, berapa sih berat beban reog ituh?? ternyata 60 kilogram!! :o dan menopangnya hanya dengan digigit!! Waduh..giginya kuat banget.. ck..ck...ck...

Bisa kebayang kan gimana beratnya???


Foto bareng dengan my lovely boss Bu Ismi (baju biru) dan
Ibu Ana Haryadi Suyuti (ibu Wakil Walikota Yogya)

Selain ituh, saya juga sempat liat stand batik... sebagai orang Jogja saya kok malah belum pernah nyobain membatik yah? padahal nenek saya dulu juga pembatik. Nyesel banget deh.. makanya begitu ada kesempatan nyobain, saya nyoba deh... :D

Ternyata tidak mudah... harus luwes tangannya...teliti dan cermat.

Kebudayaan kita ternyata begitu indah, luhur dan sayang sekali jika tidak mengenalnya dengan baik. Kalaupun minat kita terhadap budaya tidak terlalu besar, paling tidak kita harus tau dan peduli. Jangan sampai generasi baru di Indonesia akhirnya cuman gigit jari melihat hasil peradaban bangsanya di-klaim menjadi kebudayaan bangsa lain.

Review : Kembang Jepun

Ini adalah buku kedua yang saya beli beberapa waktu yang lalu. Buku karya Remy Silado ini memiliki alur yang lambat dengan setting yang sangat panjang. Dari jaman kolonial Belanda, penjajahan Jepang, hingga kemerdekaan. Berbeda sekali dengan buku yang saya review sebelumnya.

Remy Silado

Tokohnya bernama Keke, seorang gadis kecil asal Manado yang dibawa ke Surabaya untuk dijadikan geisha. Saat itu, Surabaya sudah menjadi salah satu pisat pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Mendatangkan calon geisha dari Jepang terlalu menghabiskan dana, jadi dipilihlah gadis-gadis Manado yang jika didandani akan sangat mirip dengan orang Jepang.

Keke dididik menjadi orang Jepang, dari belajar bahasa, menyajikan saku, memainkan shamisen (alat musik tradisional Jepang), sampai memuaskan nafsu laki-laki yang datang. Sampai namanya pun juga diganti menjadi Keiko.

Pada masa inilah ia bertemu dengan seorang wartawan yang bernama Tjak Broto (Cak Broto). lalu mereka saling jatuh cinta, walaupun perjalanannya sangatlah berliku. Diceritakan bagaimana kedia insan ini terpisah karena sang wartawan ditahan oleh penjajah Jepang. Bagaimana sang Geisha harus mengorbankan kehormatannya demi keselamatan sang suami, sehingga harus terpisah lautan karena Keke dirampas haknya dan dibawa ke Jepang.

Perjuangan belasan tahun untuk kembali ke Indonesia, ternyata menemui kenyataan bahwa suaminya telah menikah lagi (karena mengira Keke telah meninggal dunia). Kepulangan ke tanah air Manado yang justru membawa petaka baru. Ditawan oleh separatis PERMESTA karena dituduh sebagai mata-mata pemerintah pusat.

Kemudian terasing selama 25 tahun, hingga akhirnya ditemukan oleh wartawan yang tak lain keponakannya. Hingga bertemu dengan Tjak Broto, sang suami yang telah terpisah selama lebih dari 35 tahun.


Mungkin saya bisa dengan mudah dan singkat menceritakan kembali Kembang Jepun. Tapi sungguh, buku ini betul-betul karya sastra Indonesia, yang sangat hebat. Tidak sekedar bercerita, tapi juga menggambarkan perubahan sejarah bangsa Indonesia dari waktu ke waktu. Data-data yang akurat dan deskripsi setting yang tepat sesuai dengan keadaan masa lalu.

Selain itu, ada perbedaannya dengan Memoar of Geisha. Tokoh di buku tersebut memiliki perjuangan yang lebih sempit, yaitu memperjuangkan kebebasan dan cintanya semata. Sedangkan tokoh Keke dalam Kembang Jepung juga ikut berjuang memperoleh kemerdekaan bangsa Indonesia melalui caranya sendiri.

Buku ini mebuat saya lebih mensyukuri kemerdekaan yang kita miliki sekarang. Salut untuk Remy Silado.

Review : Digital Fortress

Seperti janji saya sebelumnya, yaitu review buku Dan Brown yang berjudul Digital Fortress atau Benteng Digital. Buat yang udah baca, yah...sambil inget-inget ceritanya yaaa...

Nah, ini dia wajah sang penulis... :)


Buku ini sedikit berbeda dengan buku-buku Dan Brown sebelumnya, The Davinci Code dan Angels and Demons. Tulisan terdahulu selalu berputar pada mahakarya peradaban masa lalu, sedangkan buku ini bercerita tentang kejahatan di dunia maya.

Cerita bermula dari beredarnya di internet sebuah kode yang tidak dapat dipecahkan oleh National Security Agency (NSA), sebuah badan intelejen Amerika Serikat. Padahal NSA memiliki sebuah komputer canggih yang disebut TRANSLTR, dengan kemampuan rata-rata 6 menit untuk memecahkan satu kode.

Kode itu harus bisa dipecahkan karena telah beredar di internet dan bisa di-download siapapun. Dikhawatirkan kode itu bisa dijadikan formulasi baru bagi para teroris untuk mengirimkan pesan. Sehingga NSA bisa kecolongan. Intinya adalah ini masalah keamanan nasional.

Kunci kode itu tentu dimiliki oleh si pembuat kode, yaitu Ensei Tankado, seorang kriptografer NSA yang telah mengundurkan diri. Namun ternyata ia telah terbunuh.

Buku ini menceritakan ketegangan dalam mendapatkan kunci tersebut. Di mana ternyata begitu banyak pihak yang berusaha mencari keuntungan dari keberadaan kode ini. Ciri khas Dan Brown kembali memukau, untuk memecahkan suatu masalah memerlukan jalan yang berliku. Suatu petunjuk untuk petunjuk yang berikutnya, dan seterusnya

Apalagi tokoh yang digambarkan dalam buku ini adalah seorang wanita cerdas yang merupakan kepala kriptografer NSA. Selain itu juga ada tokoh David Becker, profesor muda yang harus berjuang mati-matian mencari kunci kode itu dengan seorang pembunuh yang selalu mengintainya.

Buat kamu yang suka kejutan, Digital Fortress is a must read book :)

Upacara Pake Baju Jawa

Kapan terakhir kalian ikutan upacara??? :t
Buat yang kerja di swasta...wah pasti dah lupa kapan terakhir ikutan upacara. Ya nggak?? hehehe. Berbeda buat saya yang kerja di lingkungan pemerintahan. Upacara, apel karyawan, atau apapun sebutannya pasti diadakan sebulan sekali.

Tapi saya mau nanya lagi, kapan upacara pake baju daerah?? wah...makin gak pernah lagi yah :) Kalo saya dan teman-teman di Jogja, paling tidak satu tahun sekali. Kami wajib upacara pake baju daerah. Kalo perempuan ya pake kebaya dan kain jarik, plus pake sanggul (bagi yang tidak berjilbab), kalo cowok ya... pake surjan ato beskap, kain jarik, blangkon, lengkap dengan kerisnya... :) Upacara memperingati Hari Ulang Tahun ke-62 Pemerintah Kota Yogyakarta yang jatuh Minggu, 7 Juni 2009 lalu.

Suasana Upacara di Halaman Balaikota Yogyakarta


Kirab Pusaka oleh para Camat di Kota Yogyakarta


Yang punya blog mejeng bareng temen sekantor, Mbak Rika (pink) dan Krisna (merah) :D

Trus, selain itu bahasa yang dipake juga bahasa jawa... Seperti berikut ini :

hormat grak = kormat gyo
siap grak = siogo gyo
laksanakan = katindakno
siap, laksanakan = sendiko
inspektur upacara = pengageng upocoro
dan sebagainya...banyak banget...sampe lupa :)

Saya yang Jogja asli, kadang2 gak ngerti maksud dari kata-kata bahasa Jawa yang digunakan dalam upacara, huff...memprihatinkan... :(

Biasanya upacara juga diiringi Korps Musik, kalo kemaren pake gamelan lengkap dengan sinden-nya (penyanyi). Saya yang orang Jogja asli, senyum-senyum, lucu gitu.. geli sendiri, gak biasa.... tapi ada baiknya juga melestarikan kebudayaan. Kalo bukan kita, siapa lagi??? ;)

Sebel !!!!! (episode 2)

Saya pernah cerita tentang sebelnya saya kepada seseorang di kantor. Masalah sepele sebenernya, cuma gara-gara fesbuk. Dia gak bisa ngatur waktu, kerjaan jadi keteteran dan ngerepotin orang-orang sekitar untuk menyelesaikan tugasnya.

Ternyata yang sebel nggak cuma saya. Ternyata ada yang lebih sebel dari saya. Gara-garanya, ketika ruangan si A (sebut aja begitu) koneksi internet lagi down, si A maen ke ruangan saya...cuma buat buka fesbuk. Padahal komputer-nya lagi sibuk banget, jelas aja bikin orang-orang yang lagi sibuk kerja jadi mangkel dan bete.

Rupanya si empunya komputer (yaitu my lovely boss), saking empet-nya... menuliskan di komputernya tulisan berikut ini :


Hehehe...saya ketawa aja bacanya :D Tapi yang jelas di komputer saya nggak ditulisin, soalnya saya juga punya fesbuk :p Bisa-bisa jadi senjata makan tuan. Kebetulan yang punya komputer itu emang milih untuk tidak punya account facebook, karena beliaunya emang luar biasa sibuk... :) Yah...tau tuh, si A dah baca belum tulisan itu. Harusnya ngerasa kali yaaaaa......???

By the way, dari pada bete mendingan saya kasih liat aja award-award yang saya dapet yah...maap lho baru diposting sekarang. Makasih atas award-nya yah!! :L

Award dari Arum Sekartaji

Award dari D3nani

Trus dari ngatmow


Nambah Koleksi

Setelah sekian lama gak beli buku, akhirnya kemaren Sabtu malem saya dan suami jalan-jalan ke Gramedia Ambarrukmo Plaza. Habis nonton Ben Stiller di Night at The Museum 2, kami mampir dan cuma pengen liat-liat ajah.

Tapi akhirnya terbelilah 3 buah buku. Padahal sebenernya naksir banyak banget. Dan buku yang kami beli adalah :

1. Benteng Digital / Digital Fortress


Buku ini tulisan dari dan Brown, penulis dari The Davinci Code dan Angels and Demons. Buku ini agak sedikit berbeda dengan dua buku sebelumnya. Kedua buku sebelumnya sangat kental dengan sejarah dan kejayaan peradaban masa lalu, sedangkan buku ini bercerita tentang kejahatan di dunia maya. Tentang adanya sebuah kode rahasia yang tidak terpecahkan.


2. Kembang Jepun


Buku kedua, karya penulis Indonesia, bernama Remy Silado. Sebenernya buku lama sih, tapi tetep aja tertarik. Karena sebelumnya pernah baca Memoar Seorang Geisha, karya penulis barat. Nah, aku pengen tau aja, ngebandingin cara pandang dalam kedua buku ini.

Remy Silado menceritakan tentang Geisha asal Manado yang berjuang menghadapi kerasnya kehidupan.


3. Honeymoon with My Brother


Buku ketiga, buku yang terpilih di saat-saat terakhir mau bayar ke kasir. Buku ini saya pilih karena jadi salah satu karya pilihan Oprah Winfrey. Pernah dibahas di salah satu episode-nya Oprah. Buku ini adalah kisah nyata dari Franz Wisner, si penulis, yang gagal menikah hanya beberapa hari menjelang hari H. Padahal pesta sudah disiapkan, undangan telah disebar, dan honeymoon telah menanti. Parahnya semua telah dibayar lunas.

Dan, si penulis ini akhirnya tetap pergi keliling dunia menggunakan tiket honeymoon-nya, ditemani sang adik. Buku ini kabarnya juga sudah difilmkan.


Nah, sekarang ini saya baru baca yang nomer 1. Ntar deh, kalo dah dibaca, aku review satu persatu... oke... kira-kira, buku mana yang paling menarik menurut kamu???

Pake Lama!!

Pernah bete gara-gara menunggu? Terutama kalo lagi di tempat makan, udah laper, pesenan kamu gak dateng-dateng. Sampai-sampai kita harus nanyain berkali-kali ke pelayan tempat makan itu. :(

Nah, biasanya untuk menghindari ke-bete-an itu, ketika pesen pasti bilang, "Mas, mie ayam 2, es jeruk 2, nggak pake lama!!" Kalo bahasa Jawanya, "Ora ngganggo suwe!!" Tentunya si pelayan udah biasa denger pelanggan ngomong begitu.

Tapi, rupanya ada warung yang nggak terima... jangan coba-coba ngomong "nggak pake lama / ora nganggo suwe" di warung yang ada di foto ini... :p Bisa-bisa kena marah yang punya warung!! :D

Nganggo suwe = Pake lama